Dibawah adalah skripsi yang saya buat. Bila kawan - kawan perlu silahkan ambil namun inget "jangan plagiat". jadikan sebagai acuan saja. Tata cara penulisan mengacu pada pembuatan karya ilmiah tahun 2013
KONTRIBUSI EKSTRAKURIKULER BOLA
VOLI TERHADAP MINIMALISASI KENAKALAN REMAJA
(Studi Deskriptif di SMK N 2
Indramayu)
Diajukan untuk Memenuhi
Sebagian dari
Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan
Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi
Oleh:
Saefullah
1001187
JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA
FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
semoga bermanfaat :)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan bagian integral
dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek
kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis,
keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek
perilaku hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas
jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan sendiri memiliki banyak pengertian yang berbeda,
akan tetapi maksud dan tujuannya tetap tertuju pada peningkatan kualitas sumber
daya manusia. Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 disebutkan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar
dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak
mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Hal ini menunjukan bahwa
pendidikan tidak hanya berperan dalam hal pengetahuan, kecerdasan, dan
keterampilan saja, namun pendidikan juga berperan membentuk manusia yang
beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian mantap dan mandiri, serta memiliki tanggung jawab dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air.
Pendidikan jasmani, olahraga,
dan kesehatan sebagai bagian dari pendidikan memiliki peran yang sama dengan
pendidikan itu sendiri, seperti yang disebutkan Depdiknas (2006: 648) bahwa:
Pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan
psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan
nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta
pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan
perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat terlihat bahwa tujuan
pendidikan yang tertera pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, sebagian besar
tercantum dalam tujuan mata pelajaran penjasorkes. Oleh karena itu, sekolah
sebagai lembaga pendidikan yang bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan
tersebut, hendaknya dapat lebih memperhatikan dan memaksimalkan mata pelajaran
pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dapat dijadikan
sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Melalui aktivitas olahraga dan
permainan yang banyak mengandung nilai-nilai positif didalamnya diharapkan
dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan efektif, tidak
hanya kemampuan psikomotornya saja. Sesuai dengan tujuan penjasorkes dalam
standar kompetensi dan kompetensi dasar (2006: 648)
Mata pelajaran
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut
(1) Mengembangkan
keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan
kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan
olahraga yang terpilih.
(2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan
pengembangan psikis yang lebih baik.
(3) Meningkatkan
kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
(4) Meletakkan
landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang
terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
(5) Mengembangkan
sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri dan
demokratis.
(6) Mengembangkan
keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
(7) Memahami
konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai
informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan
kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
Begitu
kompleks tujuan dari penjasorkes, tidak hanya dalam kemampuan psikomotor,
kemampuan kognitif dan afektif juga tidak lepas dari tujuan tersebut. Namun,
kenyataan terkadang tidak sesuai dengan harapan, tujuan yang telah tersusun
secara rapi dan sistematis masih sulit untuk dicapai. Pembelajaran penjasorkes
di sekolah yang kurang maksimal dapat menjadi salah satu penyebabnya.
Berdasarkan pengalaman mengajar, pertemuan yang hanya satu kali dalam seminggu
menyulitkan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu diperlukan
jam tambahan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran agar tercapailah tujuan
dari pembelajaran itu.
Dalam
hal ini penjasorkes yang dalam penyampaiannya menggunakan aktivitas olahraga
dan permainan, seperti atletik, permainan bola besar: sepak bola; bola basket; bola
voli dan lain-lain sangat perlu untuk melakukan tambahan jam pelajaran demi
tercapainya tujuan, baik tujuan
penjasorkes itu sendiri maupun tujuan pendidikan nasional.
Penambahan jam tersebut dapat dilakukan di luar jam belajar
mengajar melalui kegiatan ekstrakurikuler, selain sebagai tambahan jam belajar
kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan
minat, bakat, dan potensi siswa. Menurut Nurdin (2009) dalam Tarmidi (2012: 83)
Pengembangan potensi siswa
tidak hanya dapat dikembangkan hanya melalui pendidikan intrakurikuler, namun
pendidikan melalui kegiatan ekstrakurikulerpun memiliki peranan yang besar
pula, baik ekstrakurikuler yang bersifat ilmiah, keolahragaan, nasionalisme,
maupun keterampilan.
Selain
itu kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dapat mengisi waktu luang siswa selepas
pulang sekolah, waktu luang yang biasanya diisi dengan kegiatan yang kurang
bermanfaat seperti nongkrong, konvoi jalanan, bahkan aktivitas yang mendekati
tindak kriminal seperti kenakalan remaja, tawuran, minum-minuman keras,
merokok, dan lain-lain. “Kegiatan ekstrakurikuler dapat mencegah siswa
melakukan tindakan yang menjurus kepada hal-hal yang negatif” (Diastuti (2006) dalam
Tarmidi, 2012: 83).
Pembelajaran
penjasorkes dan ekstrakurikuler olahraga akan saling melengkapi satu sama lain.
Kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran penjasorkes akan diperbaiki di dalam
aktivitas kegiatan ekstrakurikuler, begitu juga sebaliknya. Nilai-nilai yang
ada pada aktivitas olahraga dan permainan yang belum tercapai di dalam
pembelajaran penjasorkes diharapkan dapat tercapai di dalam kegiatan
ekstrakurikuler. Melalui aktivitas olahraga dan permainan tersebut siswa akan
belajar bekerja sama dan bersikap sportif, disiplin, tanggung jawab, fairplay dan sebagainya. Menurut Brooks (2000) dalam
Tarmidi (2012: 84) bahwa:
Siswa yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga tidak hanya
dapat mengembangkan keterampilan, tetapi mereka juga belajar untuk menghormati
otoritas, belajar untuk menghadapi tantangan baru, dan menikmati kebersamaan
dengan teman.
Salah
satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler olahraga dan permainan yang dapat mewakili
hal tersebut adalah kegiatan ekstrakurikuler bola voli. Kegiatan
ekstrakurikuler bola voli merupakan kegiatan beregu, yang mampu mengembangkan
bentuk kerja sama dan komunikasi, sehingga kental dengan nuansa sosial. Hal tersebut menunjukan bahwa kegiatan ekstrakurikuler
olahraga dalam hal ini adalah bola voli tidak hanya baik untuk mengembangkan
aspek fisik saja akan tetapi baik juga untuk perkembangan aspek sosial dan
emosional siswa. Tarmidi (2009: 89) mengungkapkan bahwa:
Berolahraga dapat mengurangi
kecemasan dan depresi, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan harga diri.
Anak-anak yang berolahraga lebih percaya diri, mengurangi ketidakhadiran di
sekolah, dan biasanya mendapatkan nilai yang lebih baik.
Hal
tersebut berkaitan dengan ranah emosional, dengan adanya kegiatan
ekstrakurikuler olahraga seperti bola voli diharapkan siswa mampu mengendalikan
emosinya dengan baik. Teknik bermain bola voli yang bervariasi dan sulit untuk
dikuasai, permainan bola voli yang keras, dan kompetisi merupakan salah satu
bentuk dari kegiatan ekstrakurikuler bola voli untuk melatih mengendalikan
emosi. Kemampuan dalam mengendalikan emosi ini biasa disebut dengan kecerdasan
emosional. Hurlock (1960) dalam Nurgala (2011: 26) menyebutkan bahwa
“Permainan yang mampu mengembangkan kecerdasan emosional adalah pola permainan
yang bernuansa sosial seperti olahraga beregu karena di dalam olahraga beregu
melibatkan orang lain atau teman secara penuh.”
Pengalaman
berlatih dan bertanding dalam kegiatan ekstrakurikuler bola voli secara tidak
langsung akan melatih kecerdasan emosional seseorang melalui
pengalaman-pengalaman yang diperoleh pada saat mengikuti kegiatan tersebut.
Penelitian Mahoney (2006) dalam Tarmidi (2012: 89) pada remaja putri berumur 14
tahun yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga, menunjukkan bahwa:
Kecerdasan emosional remaja tersebut dapat berubah tergantung
dari pengalaman yang didapatnya. Kecerdasan emosional yang rendah atau negatif
ditemukan ketika remaja tersebut merasakan stres saat dia harus menguasai
teknik olahraga yang sempurna (intrapersonal),
saat mengikuti suatu kompetisi (situational)
serta disaat mendengar penilaian yang negatif
dari pembimbingnya (significant
others). Tetapi kecerdasan emosional
remaja tersebut dinilai mengalami peningkatan atau positif saat dia
senang karena berhasil menguasai teknik
yang susah (intrapersonal), menang dalam
sebuah kompetisi (situational) dan
mendapatkan pujian serta teman-teman baru disaat berkompetisi (significant others).
Permainan bernuansa sosial ini sudah menjadi barang tentu
memberikan sumbangsih langsung pada pembentukan karakter siswa yang
mengikutinya. Hasil penelitian Blomfield (2010) dalam Tarmidi (2012: 85) yang dilakukan pada siswa-siswa di Australia menunjukkan
bahwa “Keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler olahraga mengurangi
tingkat penggunaan alkohol, mengurangi ketidakhadiran di sekolah, serta
meningkatkan rasa kepemilikan terhadap
sekolahnya.”
Kenakalan remaja yang mengakar pada kehidupan remaja saat
ini, khususnya remaja Sekolah Menegah Atas (SMA), diharapkan dapat dikurangi
bahkan dihilangkan melalui keikutsertaan dalam kegiatan ekstrakurikuler bola voli ini. Nilai-nilai
positif yang ada di dalam permainan bola voli seperti kerja sama, tanggung
jawab, disiplin, saling menghargai dan lain-lain semoga dapat menjadi bagian
dari remaja saat ini agar terciptalah remaja yang berkarakter dan
berkepribadian mantap sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional.
Berdasarkan latar belakang
tersebut, maka dalam penelitian ini akan dikaji lebih lanjut mengenai
kontribusi kegiatan ekstrakurikuler olahraga terhadap kecerdasan emosional (kenakalan
remaja) siswa yang aktif di dalamnya. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga yang
dimaksud adalah kegiatan ekstrakurikuler permainan bola voli. Oleh karena itu judul yang diambil dalam penelitian
ini adalah “Kontribusi Kegiatan Ekstrakurikuler Bola Voli Dalamfsdfg Minimalisasi Kenakalan Remaja.”
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di
atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu “Apakah kegiatan ekstrakulikuler bola voli dapat memberikan
kontribusi terhadap minimalisasi kenakalan remaja”yang dipaparkan dalam poin
berikut ini :
1.
Adakah kontribusi ekstrakulikuler bola voli
terhadap minimalisasi kenakalan remaja ?
2.
Apakah
terdapat nilai kontribusi kegiatan ekstrakurikuler bola voli
terhadap minimalisasi kenakalan remaja ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah ditetapkan maka penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui:
1.
Mengetahui adakah kontribusi kegiatan
ekstrakurikuler bola voli terhadap minimlisasi kenakalan remaja.
2.
Mengetahui nilai kontribusi kegiatan
ekstrakurikuler bola voli terhadap minimalisasi kenakalan remaja
D. Manfaat Penelitian
Sebelumnya telah penulis kemukakan uraian mengenai latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian yang hendak dicapai pada
penelitian ini, maka selanjutnya penulis berharap manfaat atau kegunaan
penelitian ini, baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang
penulis harapkan adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat Teoritis
Adapun manfaat teoritis dari
penelitian ini adalah:
a. Dapat memberikan pengetahuan dan informasi mengenai
kontribusi kegiatan ekstrakulikuler bola voli
terhadap minimalisasi kenakalan remaja disekolah
b. Menambah
khasanah bahan pustaka baik di tingkat program, fakultas maupun universitas.
c. Sebagai dasar
untuk mengadakan penelitian
lebih lanjut dengan variabel lainnya yang lebih variatif.
2. Manfaat Praktis
Dalam tatanan praktis,
penulis mengharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai:
a. Bahan masukan bagi sekolah untuk memaksimalkan pembinaan
kepada peserta didik, baik itu pembinaan dalam hal akademik atau intrakulikuler
maupun non akademik atau ekstrakulikuler.
b. Bahan masukan bagi guru, khususnya guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dalam
mengembangkan dan memaksimalkan kegiatan ekstrakulikuler olahraga.
c. Informasi kepada pihak sekolah dan orang tua siswa mengenai
fungsi dan manfaat kegiatan ekstrakulikuler olahraga permainan bola voli di
sekolah.
d. Sumbangan pemikiran untuk pihak sekolah, orang tua siswa, dan
siswa mengenai manfaat kegiatan ekstrakulikuler olahraga permainan bola voli
dalam hal meminimalisir kenakalan remaja.
e. Pedoman bagi siswa untuk mengembangkan kecerdasan emosional.
E.
Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan
Bab ini
menjelaskan tentang latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan dan
manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
|
BAB II: Kajian Pustaka dan Hipotesis
Penelitian
Bab ini memuat tinjauan
teoritis mengenai kegiatan
ekstrakulikuler permainan bola voli, kecerdasan emosional dan kenakalan
remaja. Bab ini akan diakhiri dengan memaparkan hipotesis penelitian.
|
BAB III: Metodologi Penelitian
Pada bab ini dijelaskan
mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi operasional dari variabel
penelitian, populasi dan metode pengambilan sampel, alat pengumpulan data,
uji validitas, dan reliabilitas alat ukur serta metode analisis data.
|
BAB IV: Analisa Data dan Interpretasi
Pada bab ini dijelaskan
mengenai analisa dan interpretasi data yang memuat gambaran umum subjek
penelitian, hasil penelitian, dan interpretasi hasil penelitian utama serta
analisa tambahan.
BAB V: Kesimpulan dan Saran
Bab ini menjelaskan
kesimpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian.
|
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN
HIPOTESIS
PENELITIAN
A. KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka berisi teori-teori yang
sedang dikaji dalam penelitian ini. “Kajian pustaka berfungsi sebagai landasan
teoritik dalam menyusun pertanyaan penelitian, tujuan, serta hipotesis” (UPI,
2012: 19).
1. Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan
ini merupakan penyeimbang antara kegiatan belajar mengajar di dalam kelas
dengan kegiatan belajar mengajar di luar kelas. Kegiatan ekstrakurikuler dapat
di jadikan sebagai alat untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan siswa.
a. Pengertian Kegiatan
Ekstrakurikuler
Pengertian
ekstrakurikuler menurut kamus besar bahasa Indonesia (2008: 360), yaitu “Suatu
kegiatan yang berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum seperti
latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa.” Kegiatan ekstrakurikuler termasuk
juga ke dalam aktivitas pembelajaran, namun kegiatan ini dilaksanakan di luar
jam belajar sekolah, agar siswa dapat lebih memiliki keleluasaan waktu dan
memiliki kebebasan untuk menentukan jenis kegiatan yang sesuai dengan minat,
bakat, dan potensi siswa. Sudjana (2002) dalam Tarmidi (2012: 83) menjelaskan
definisi kegiatan ekstrakurikuler, bahwa:
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang
diadakan di luar jam sekolah yang dimaksudkan
untuk lebih memantapkan pembentukan kepribadian, dan untuk lebih mengaitkan
antara pengetahuan yang diperoleh dalam
program kurikulum dan keadaan serta kebutuhan lingkungan.
Sedangkan
menurut Sunendar (2013: 31) “Pembelajaran ekstrakurikuler merupakan kegiatan
yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan
pembelajaran terjadwal secara rutin setiap Minggu.” Berdasarkan
pengertian-pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan
ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran di luar jam sekolah yang
bertujuan untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensi siswa.
b. Tujuan Kegiatan Ekstrakurikuler
Setiap
aktivitas atau kegiatan yang dilakukan pasti memiliki tujuan atau visi dan misi
yang hendak dicapai, salah satunya adalah kegiatan ekstrakurikuler. Menurut
Badan Pengembangan dan Penelitian Depdiknas (2009: 17) mengenai visi kegiatan
ekstrakurikuler menyebutkan bahwa “Visi
kegiatan ekstrakurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara
optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna
untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.” Sedangkan Misi dari kegiatan
ekstrakurikuler adalah untuk:
(1)
Menyediakan
sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sebagai kegiatan
pengembangan diri di luar mata pelajaran.
(2)
Menyelenggarakan
kegiatan di luar mata pelajaran dengan mengacu kepada kebutuhan, potensi, bakat
dan minat peserta didik.
(Balitbang Depdiknas,
2009: 17)
Visi
dan Misi kegiatan ekstrakurikuler tersebut fokus kepada perkembangan peserta
didik/siswa. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bertugas
untuk mendidik siswa hendaknya dapat memaksimalkan kegiatan ekstrakurikuler di
sekolah.
c. Fungsi Kegiatan Ekstrakurikuler
Selain
tujuan kegiatan ekstrakurikuler yang hendak dicapai, kegiatan ekstrakurikuler
juga memiliki fungsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas (2009: 17)
memaparkan mengenai fungsi dari kegiatan ekstrakurikuler, yaitu sebagai
berikut:
(1)
Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler
untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat peserta didik;
(2)
Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler
untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik;
(3)
Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan
ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan dan
menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan;
(4)
Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan
ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karier peserta didik.
Sedangkan
Sunendar (2013:31) menyebutkan bahwa:
Kegiatan ekstrakurikuler
merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kurikulum. Kegiatan
ekstra-kurikulum berfungsi untuk:
(1)
Mengembangkan
minat peserta didik terhadap kegiatan tertentu yang tidak dapat dilaksanakan
melalui pembelajaran kelas biasa,
(2)
Mengembangkan
kemampuan yang terutama berfokus pada kepemimpinan, hubungan sosial dan
kemanusiaan, serta berbagai keterampilan hidup.
Berdasarkan
fungsi tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan bagian
dari kurikulum yang berlaku dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan.
Hal itu menunjukkan bahwa fungsi kegiatan ekstrakurikuler tidak jauh berbeda
dengan kegiatan intrakurikuler yaitu untuk mendidik siswa agar menjadi
lebih baik dalam berbagai hal.
d. Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler
Prinsip
muncul setelah adanya tujuan dan fungsi dari aktivitas atau kegiatan yang
dilakukan. Berpedoman pada tujuan dan fungsi kegiatan ekstrakurikuler Balitbang
Depdiknas (2009: 17) membagi prinsip kegiatan ekstrakurikuler menjadi lima,
yaitu:
(1)
Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan
potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
(2)
Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan
keinginan dan diikuti secara sukarela oleh peserta didik.
(3)
Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut
keikutsertaan peserta didik secara penuh.
(4)
Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan
ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan peserta didik.
(5)
Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun
semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
Sedangkan
menurut Arakin, prinsip kegiatan ekstrakurikuler antara lain:
(1)
Semua
siswa, guru dan personil administrasi sekolah hendaknya ikut serta dalam usaha
meningkatkan program.
(2)
Kerja
sama dalam tim adalah fundamental.
(3)
Perbuatan
untuk partisipasi hendaknya dibatasi.
(4)
Proses
lebih penting daripada hasil.
(5)
Program
hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
(Sumber [online]. http://waitukanarakian.blogspot.com/2013/01/kegiatan-ekstrakurikuler.html.
Diakses tanggal 29 September 2013).
Berdasarkan
prinsip-prinsip tersebut maka dapat digambarkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler
merupakan kegiatan pilihan masing-masing peserta didik sesuai dengan minat,
bakat, dan kemampuannya yang dilaksanakan secara berproses disesuaikan dengan
kebutuhan, serta bersifat menyenangkan dan menuntut kerja sama setiap elemen
baik guru maupun siswa.
e. Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler
Setiap
sekolah memiliki jenis kegiatan ekstrakurikuler yang berbeda disesuaikan dengan
kebijakan dan kebutuhan pihak sekolah. Siswa dibebaskan untuk memilih jenis
kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat, bakat, potensi dan kebutuhan
masing-masing. Balitbang Depdiknas (2009: 18) membagi jenis kegiatan
ekstrakurikuler menjadi beberapa bagian, yakni sebagai berikut:
(1)
Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar
Kepemimpinan Siswa, Palang Merah Remaja, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
(2)
Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah
Remaja, kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.
(3)
Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi
pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, keagamaan.
(4)
Seminar, lokakarya, dan pameran, dengan
substansi antara lain karier, pendidikan, kesehatan, perlindungan hak asasi
manusia, keagamaan, seni budaya.
(5)
Kegiatan lapangan, meliputi kegiatan yang
dilakukan di luar sekolah berupa kunjungan ke obyek-obyek tertentu.
Sebagian
dari jenis kegiatan ekstrakurikuler tersebut sudah banyak dilaksanakan di
sekolah dan telah disesuaikan dengan kebijakan serta kebutuhan siswa dan
sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah.
2. Olahraga
a.
Pengertian
Olahraga
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 979) Olahraga adalah gerak badan untuk
menguatkan dan menyehatkan tubuh (sepak bola, berenang, lempar lembing).
Perkataan olahraga mengandung arti akan adanya sesuatu yang berhubungan dengan
peristiwa mengolah yaitu mengolah raga atau mengolah jasmani. Sedangkan
pengertian olahraga secara umum adalah “Serangkaian gerak raga yang teratur dan
terencana yang dilakukan orang untuk mencapai suatu maksud atau tujuan
tertentu” (Giriwijoyoetal., 2005:
10).
Sedangkan
pengertian olahraga dalam UU RI Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional Pasal 1 Ayat 4 “Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk
mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.”
Berdasarkan beberapa pengertian olahraga di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
olahraga merupakan aktivitas atau kegiatan yang sistematis, teratur dan
terencana untuk mengembangkan potensi diri (jasmani, rohani, sosial) dengan
maksud dan tujuan tertentu.
b. Tujuan Olahraga
Berdasarkan
pengertian olahraga di atas, bahwa olahraga dilakukan untuk mencapai sebuah
tujuan maka Giriwojoyoetal. (2005:
10) mengungkapkan tentang tujuan dari olahraga berdasarkan tujuan tersebut,
yaitu:
(1)
Olahraga prestasi,
tekanannya pada pencapaian prestasi.
(2)
Olahraga rekreasi,
tekanannya pada rekreasi.
(3)
Olahraga kesehatan,
tekanannya pada pencapaian kesehatan.
(4)
Olahraga pendidikan,
tekanannya pada pencapaian tujuan pendidikan.
Intensitas
olahraga itu sendiri akan sangat ditentukan oleh tujuan apa yang hendak
dicapai, sedangkan manfaatnya bagi peningkatan derajat kesehatan dinamis akan
sangat tergantung pada intensitas pelaksanaannya. Berikut akan dijelaskan
mengenai sasaran dari masing-masing tujuan olahraga tersebut.
(1)
Olahraga Prestasi
Olahraga
prestasi merupakan olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara
terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai
prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Menurut
UU RI No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional Pasal 20 Ayat
1 “Olahraga prestasi dimaksudkan sebagai
upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka
meningkatkan harkat dan martabat bangsa.”
(Sumber [online]. http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indo
nesia_Nomor_3_Tahun_2005.
Diakses tanggal 29 September 2013).
(2)
Olahraga Rekreasi
Olahraga
rekreasi dapat dilakukan oleh setiap orang, baik itu perorangan, keluarga,
masyarakat maupun lembaga berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, seperti
memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani, kegembiraan, membangun hubungan sosial
maupun melestarikan alam dan kebudayaan sekitar. UU RI Nomor 3 Tahun 2005
tentang Sistem Keolahragaan Nasional Pasal 19 Ayat 1 menyebutkan, bahwa:
Olahraga
rekreasi merupakan kegiatan olahraga waktu luang yang dilakukan secara sukarela
oleh perseorangan, kelompok, dan/atau masyarakat seperti olahraga masyarakat,
olahraga tradisional, olahraga kesehatan, dan olahraga petualangan yang tumbuh
dan berkembang dalam masyarakat.
(Sumber [online]. http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik
Indonesia_Nomor_3_Tahun_2005.
Diakses tanggal 29 September 2013).
Berdasarkan
pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa olahraga rekreasi memiliki
tujuan dan sasaran yang jelas, seperti yang telah dijelaskan di dalam
pengertian olahraga rekreasi.
(3)
Olahraga Kesehatan
Olahraga
kesehatan merupakan olahraga yang paling sedikit mengandung risiko atau bahaya
cidera. Giriwijoyoetal. (2005: 12)
mengungkapkan tentang sasaran olahraga kesehatan, sebagai berikut:
Sasaran
minimal: mempertahankan dan memelihara kemampuan gerak yang masih ada, dan
berusaha untuk meningkatkannya melalui latihan perenggangan dan pelemasan;
Sasaran antara: memelihara dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot agar
dapat meningkatkan kemampuan gerak lebih lanjut; Sasaran utama: memelihara dan
meningkatkan kapasitas aerobik.
Berdasarkan
sasaran olahraga kesehatan tersebut yang menjadi tujuan utama dari olahraga
kesehatan adalah peningkatan kapasitas aerobik yang menjadi derajat kebugaran
seseorang.
(4)
Olahraga Pendidikan
Sama
halnya seperti olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga kesehatan,
olahraga pendidikan juga memiliki sasaran yang hendak dicapai. Menurut Sucipto
(2012: 2) bahwa olahraga pendidikan mempunyai sasaran jangka pendek yaitu:
(a)
Pengembangan keterampilan pada cabang olahraga.
(b)
Menghargai dan mampu mengarahkan strategi
permainan di dalam olahraga.
(c)
Partisipasi pada tingkat yang tepat sesuai
dengan pengembangan kemampuan.
(d)
Membagi pengalaman dalam perencanaan dan
administrasi.
(e)
Memiliki tanggung jawab dalam kepemimpinan.
(f)
Kerja dengan efektif dalam kelompok ke arah
tujuan umum.
(g)
Menghargai nilai-nilai ritual dan tradisi yang
dimiliki olahraga secara khusus.
(h)
Mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan
yang masuk akal tentang isu-isu di dalam olahraga.
(i)
Mengembangkan dan menerapkan pengetahuan tentang
penjurian, perwasitan, dan latihan.
(j)
Meletakkan diri pada olahraga secara sukarela
setelah berakhir olahraga di sekolah.
Olahraga
pendidikan juga memiliki sasaran jangka panjang, adapun sasaran tersebut
menurut Sucipto (2012: 2) adalah sebagai berikut:
(a)
Mengembangkan budaya olahraga.
(b)
Menjamin keterlibatan dalam olahraga pada semua
level didesain untuk kepentingan partisipan.
(c)
Membuat olahraga dapat dicapai lebih meluas agar
perbedaan jenis kelamin, perbedaan warna kulit, cacat, status sosial ekonomi
dan usia merupakan bukan halangan untuk
berpartisipasi.
Kedua
sasaran tersebut baik itu sasaran jangka pendek maupun sasaran jangka panjang
pada intinya yaitu untuk menjadikan olahraga sebagai media atau alat untuk
mendidik siswa menjadi pribadi yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
c. Manfaat Olahraga
Secara
umum olahraga memiliki banyak manfaat, apabila olahraga dilakukan secara
teratur, terarah, dan terkendali maka akan memberikan manfaat kepada diri
seseorang, sebagaimana dijelaskan oleh Supandi dalam Slamet (2012: 114) bahwa
“Bergerak wajib bagi manusia, pelakunya akan memperoleh manfaat sedangkan yang
tidak akan memperoleh mudarat.” Berdasarkan kutipan tersebut maka dapat
dikatakan bahwa apabila seseorang melakukan olahraga dengan baik dan teratur
maka akan menghasilkan peningkatan kualitas baik fisik maupun psikisnya.
Sedangkan
Slamet (2012: 116) membagi manfaat olahraga menjadi beberapa bagian, yaitu:
1)
Manfaat olahraga terhadap jasmani.
a)
Meningkatkan kemampuan dan ketahanan dalam
bergerak atau bekerja.
b)
Mengatasi kekurangan gerak.
c)
Berkurangnya risiko untuk mendapatkan
penyakit-penyakit non- infeksi
khususnya penyakit jantung dan pembuluh darah.
d)
Kemampuan gerak akan lebih baik.
2)
Manfaat olahraga terhadap rohani.
a)
Membina sikap positif terhadap kegiatan olahraga
dalam waktu luang.
b)
Mendapatkan harga diri.
c)
Mendapatkan kegembiraan.
d)
Dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan baik
tekanan emosional maupun mental.
3)
Manfaat kegiatan olahraga terhadap sosial.
a)
Membina kerja sama.
b)
Belajar bergaul.
c)
Meningkatkan saling pengertian dan hubungan
emosional yang lebih baik.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa
olahraga tidak hanya bermanfaat bagi peningkatan kualitas fisik atau jasmani
saja, namun olahraga juga bermanfaat bagi peningkatan kualitas psikis
seperti kemampuan emosional dan sosial.
d. Permainan Bola Voli
Bola voli merupakan salah satu jenis
olahraga permainan yang di dalam permainannya banyak memiliki nilai-nilai
positif, seperti nilai kerja sama, disiplin, tanggung jawab, saling menghargai,
dan masih banyak lagi. Olahraga permainan ini memiliki tujuan yang kompleks
baik itu dalam hal prestasi, pendidikan, kesehatan, maupun rekreasi. Manfaat
permainan bola voli juga
tidak hanya untuk perkembangan fisik saja, namun perkembangan psikis,
emosional, dan sosial pun ada di dalam permainan ini.
Nuril
Ahmadi, (2007:19). Bola voli merupakan suatu permainan yang kompleks yang tidak
mudah untuk dilakukan oleh setiap orang. Diperlukan pengetahuan tentang
teknik-teknik dasar dan teknik-teknik lanjutan untuk dapat bermain bola voli
secara efektif. Teknik-teknik dasar tersebut meliputi service, passing, smash,
dan sebagainya.
Permainan
bola voli merupakan permainan beregu yang tidak hanya membutuhkan teknik
individu, namun permainan ini membutuhkan kerja sama yang baik dalam regu.
Kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan cara menjaga bola diudara dengan mengoper
bola dari satu pemain ke pemain lainnya dalam regu tersebut dengan mempasingkan
bola diantara pemainnya untuk menciptakan skor dengan mematikan bola kedalam
daerah lawan yang terbatasi oleh net. “Bola voli dimainkan oleh dua (2) tim
yang masing-masing terdiri dari enam (6) pemain. Tujuan dari masing-masing tim adalah
untuk mencetak angka dengan mematikan bola kedaerah lawan baik itu dengan cara
pukulan maupun tipuan dan berusaha mencegah tim lawan untuk mencetak angka.“Permainan
bola voli yaitu suatu cabang lahraga beregu, diamainkan oleh 2 regu yang
masing-masing regu menepati petak lapangan permainan yang dibatasi oleh
jaring/net”. Bachtiar, dkk (20007:2.3)
Bola voli
dimainkan di dalam lapangan yang rata berbentuk persegi panjang dengan ukuran
panjang 18 meter dan lebar 9 meter, dikelilingi oleh daerah bebas yang simetris
dengan jarak minimal 3 meter seperti yang ditulis dalam peraturan resmi bola
voli FIBV (2010: 1)
Lapangan
permainan harus rata, memiliki permukaan keras yang bebas dari segala sesuatu
yang menghalangi dengan ukuran panjang 18m dan lebar 9m yang dikelilingi daerah
bebas yang simetris dengan jarak minimal 3 meter, pertandingan terdiri dari 5 set,
dengan masing-masing set diahiri dengan yang telebih dahulu mencapai skor
terahiri.
Oleh
karena itu, permainan bola voli membutuhkan kerja sama dengan skill dan fisik pemain yang prima. Untuk
mendapatkan skill bermain yang baik dan fisik yang prima
diperlukan kerja keras dalam latihan. Kerja sama dalam permainan bola voli akan
berlangsung dengan baik apabila setiap pemain memiliki skill yang baik dan fisik pemain yang prima. Dengan skill dan fisik yang prima maka
permainan akan menjadi lebih menarik dari awal permainan dimulai hingga
permainan berakhir.
e. Karakteristik Permainan Bola Voli
Permainan
bola voli merupakan salah satu jenis permainan yang menuntut kerja sama yang
baik dalam regu, baik dalam mencetak skor maupun dalam mencegah tim lawan
memperoleh skor. Setiap tim terdiri dari masing-masing tim inti yang bermain di
dalam lapangan permainan, dan pemain cadangan sebagai pengganti pemain inti.
Pemain yang bermain di dalam lapangan permainan sebanyak enam orang pemain.
Menurut
Pengda Jabar dalam Sucipto etal. (2010:
26) dalam permainan beregu termasuk bola voli “terdapat tiga hal penting yang
harus dimiliki suatu tim yaitu: (1) kolektivitas tinggi menjadikan tim lebih
baik, (2) pembagian tugas sama dengan tanggung jawab, (3) tidak ada pemain yang
paling berjasa dalam tim.”
Berdasarkan
ketiga hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa permainan bola voli
membutuhkan kolektivitas atau kebersamaan dalam tim dalam hal ini kerja sama
yang baik, pembagian tugas yang jelas dan tepat agar setiap pemain merasa
bertanggung jawab terhadap tugasnya, sehingga nantinya tidak ada pemain yang
merasa paling berjasa dalam tim. Permainan ini mengajarkan pemainnya untuk
saling bekerja sama.
f. Komponen yang Mempengaruhi Hasil Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler bola voli merupakan salah satu
bentuk aktivitas pembelajaran yang memiliki tujuan yang jelas. Tercapai atau
tidaknya tujuan tersebut tergantung pada faktor atau komponen yang
mempengaruhinya. Menurut Popham (1995) “ranah afektif menentukan keberhasilan
belajar seseorang.”(Sumber
[online].Tersedia : http://rian.hilman.web.id.
Di akses tanggal 25 Desember 2013).
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor
dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang berminat
dalam suatu pembelajaran diharapkan mampu mencapai hasil pembelajaran yang
optimal. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam
merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik,
pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik. Menurut
Krathwohl (1961)
Bila ditelusuri hampir
semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains,
misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen
afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu:
receiving (attending), responding, valuing,
organization, dan characterization.
(Sumber
[online]. http://rian.hilman.web.id/?p=5. Diakses
tanggal 25 Desember 2013).
Berikut akan dijelaskan mengenai kelima ranah afektif
tersebut:
1)
Tingkat Receiving
(Penerimaan)
Penerimaan merupakan komponen yang sangat diperlukan sebagai
langkah pertama dalam segi afektif terhadap rangsang dari suatu objek. Menurut Krathwohl (1961) dalam http://rian.hilman.web.id/?p=5
pada tingkat receiving atau attending
Peserta
didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus,
misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik
mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek
pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang
membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi
kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
Sebelum siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola voli,
terlebih dahulu terjadi proses penerimaan rangsang melalui perhatian dan
pengertian terhadap kegiatan ekstrakurikuler bola voli. Apabila rangsang
tersebut ditanggapi dengan sikap yang positif maka akan menimbulkan kesenangan,
kemudian kesenangan tersebut akan menjadi kebiasaan yang positif pula. Menurut Krathwohl
(1961) dalam Suhendar (2011: 27) Tingkat penerimaan tersebut diperoleh melalui
tahap “kesadaran, kehendak untuk menerima, dan pengendalian untuk menerima”.
Kesadaran, secara sadar siswa menerima rangsang dari suatu
objek yaitu ekstrakurikuler bola voli. Dalam hal ini siswa memiliki catatan
sebagai persiapan untuk melakukan tindakan pada kegiatan ekstrakurikuler bola voli,
dan siswa sadar bahwa kegiatan ekstrakurikuler bola voli memiliki manfaat.
Kemudian siswa memiliki kehendak untuk menerima rangsangan terhadap kegiatan
ekstrakurikuler bola voli sehingga siswa memiliki keinginan untuk mengikuti
kegiatan tersebut. Tahapan selanjutnya, kemudian siswa mengendalikan dirinya
untuk memusatkan perhatian pada kegiatan ekstrakurikuler bola voli, sehingga
siswa dapat memahami bahwa kegiatan ekstrakurikuler bersifat positif dan
memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kegiatan lainnya.
2)
Tingkat Responding(Tanggapan)
Tahap yang kedua adalah penanggapan (Responding). Menurut Krathwohl (1961) dalam Suhendar (2011: 28)
penanggapan tersebut adalah “partisipasi aktif dalam kegiatan tertentu.” Pada
tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia
juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan
respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons.
Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang
menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus.
Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang
membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya. Dalam
hal ini siswa ditekankan agar senang dalam mengikuti aktivitas di dalam kegiatan
ekstrakurikuler bolavoli. Menurut Krathwohl dalam Suhendar (2011: 28) dalam
proses penerimaan tanggapan terdapat 3 tahapan, yaitu “menerima tanggapan,
kehendak untuk menerima, kepuasan dan menanggapi.”
Menerima tanggapan, siswa akan menanggapi suatu kegiatan
tertentu apabila didorong oleh saran, permintaan, atau motivasi dari orang
lain. Minat siswa yang berasal dari keinginan atau kemauan sendiri dengan minat
siswa yang berasal dari saran, permintaan maupun motivasi dengan orang lain
tentu akan berbeda. Biasanya siswa yang menerima tanggapan akan tertarik
setelah menerima informasi yang menyenangkan dari kegiatan tersebut. Berikutnya
adalah kehendak untuk menerima, dalam hal ini kemampuan yang diharapkan dari
siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola voli timbul akibat kesadaran
sendiri untuk melibatkan secara sukarela. Kepuasan dan menanggapi, dengan
timbulnya kesadaran diri untuk melibatkan diri secara sukarela dalam kegiatan
ekstrakurikuler bola voli, maka akan menghasilkan kepuasan sendiri terhadap
siswa. Merasa puas dan yakin bahwa kegiatan tersebut membawa dampak yang baik
dan positif.
3)
Tingkat Valuing(Penilaian)
Komponen yang terakhir adalah penilaian. “Penilaian
berkenaan dengan penerimaan tertentu pada diri seseorang terhadap suatu
kegiatan tertentu” (Krathwohl dalam Suhendar 2011: 28). Dalam hal ini kegiatan
tersebut adalah ekstrakurikuler bola voli. Dengan demikian siswa akan menerima
atau memberikan suatu penilaian tertentu terhadap ekstrakurikuler bola voli.
Penerimaan suatu nilai seperti kegiatan ekstrakurikuler mendatangkan dampak
atau nilai-nilai positif pada dirinya, mendatangkan pengalaman, menyenangkan
dan kesehatan. Kemudian menyadari suatu nilai akan pentingnya kegiatan
ekstrakurikuler bola voli, sehingga siswa akan mengikuti kegiatan dengan
sungguh-sungguh dan aktif dalam kegiatan
tersebut. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang
konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan
pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4)
Tingkat Organization
(Pengaturan)
Menurut Krathwohl (1961) pada tingkat organization, “nilai satu dengan
nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun
sistem nilai internal yang konsisten.” (Sumber [online]. http://rian.hilman.web.id/?p=5.
Diakses tanggal 25 Desember 2013). Nilai-nilai tersebut tentunya diperoleh
dalam kegiatan ekstrakurikuler bola voli. Hasil pembelajaran pada tingkat ini
berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya
pengembangan filsafat hidup.
5)
Tingkat Characterization(Karakterisasi
berdasarkan nilai)
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Menurut
Krathwohl (1961) “Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang
mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya
hidup.” Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi,
dan sosial.
Berdasarkan kelima ranah afektif tersebut dapat disimpulkan
bahwa ranah receiving, responding, dan
valuing merupakan komponen yang dibutuhkan dalam pembentukan sikap,
sedangkan ranah organization, dan characterization merupakan hasil dari pembentukan
sikap dalam kegiatan ekstrakurikuler bola voli.
3. Kecerdasan Emosional
a.
Pengertian
Emosi
Kata
emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere,
yang berarti bergerak atau menjauh. Perbuatan atau perilaku seseorang dalam
kehidupan sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu,
seperti perasaan senang atau tidak senang. Menurut Nana SyaodihSukadinata
(2005) emosi merupakan:
Perasaan
menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat
riak air atau hembusan angin sepoi-sepoi sedangkan emosi menggambarkan suasana
batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak
atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa
diamati.
(Sumber[online].http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/06/09/memaha
mi-emosi-individu/. Diakses tanggal 6 November 2013).
Sedangkan
menurut Goleman (2005: 412) “Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang
khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk
bertindak.” Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi
merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai
contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga
secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku
menangis. Dalam hal ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal
mutlak dalam emosi.
Emosi
pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi
masalah yang ditanamkan secara berangsur-angsur yang berkaitan dengan
pengalaman dari waktu ke waktu.
b. Fungsi Emosi
Setiap
orang pasti merasakan emosi dan emosi tersebut tidak selalu negatif. Emosi akan
cenderung positif apabila dapat dikendalikan dengan baik. Menurut Coleman dan Hammen dalam Jamaludin
Rahmat (2001)
yang dikutip oleh Mudjihartono (2009: 15) terdapat empat fungsi emosi, yaitu:
1)
Emosi adalah Pembangkit Energi (Energizer). Artinya ketika
seseorang merasakan emosi, maka tubuhnya akan tergerak untuk melakukan apa yang
dirasakannya, dalam hal ini emosi membangkitkan dan memobilisasi energi kita.
Contohnya, marah menggerakkan individu untuk menyerang; takut menggerakkan
individu untuk lari; dan cinta menggerakkan individu untuk bermesraan dan
mendekat.
2)
Emosi sebagai pembawa informasi (massenger). Fungsi ini lebih
mengarah pada komunikasi intra-personal.
Maksudnya, ketika emosi itu kita rasakan pada diri kita, maka secara tidak
langsung kita menyadari apa yang sedang terjadi pada diri kita atau stimuli apa yang kita dapat dari
lingkungan. Seperti, Pada saat individu marah, mengetahui bahwa individu telah
dihambat atau diserang oleh orang lain; sedih berarti kehilangan sesuatu yang
dicintai; bahagia berarti memperoleh sesuatu yang disenangi atau berhasil
menghindari dari hal yang di benci.
3)
Pembawa pesan dalam komunikasi intra-personal dan interpersonal. Dalam
berkomunikasi, pasti memiliki tujuan atau pesan yang akan disampaikan. Seperti
ketika kita sedang bercerita dengan sahabat kita, dalam cerita itu terdapat
cerita sedih yang membuat kita menangis bahkan sahabat kita
(pendengar/komunikan) juga turut menangis.
4)
Sumber informasi tentang
keberhasilan. Individu mendambakan kesehatan dan mengetahuinya ketika dalam
keadaan sehat dan merasa sehat. Individu menginginkan kebahagiaan dan
mengetahuinya ketika dalam keadaan kesenangan dalam dirinya.
Berdasarkan keempat fungsi emosi tersebut dapat dikatakan bahwa fungsi
emosi secara umum adalah sarana untuk menyampaikan informasi dari dalam diri
individu ke dalam lingkungan sekitar, berupa perasaan-perasaan yang sedang
dirasakannya melalui komunikasi intra-personal
dan interpersonal.
c. Bentuk-Bentuk Emosi
Emosi
merupakan bentuk pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam
seseorang tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud tingkah laku yang
tampak, seperti marah, gembira dan benci. Goleman (2005: 411) menggolongkan
bentuk emosi tersebut menjadi:
1)
Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar,
jengkel, kesal hati, terganggu, tersinggung, bermusuhan, dan yang paling hebat
adalah tindakan kekerasan dan kebencian patologis;
2)
Kesedihan: pedih, muram, suram, melankolis,
mengasihi diri, kesedihan, ditolak, dan depresi berat;
3)
Rasa takut: takut, gugup, khawatir, was-was,
perasaan takut sekali, khawatir, waspada, tidak senang, ngeri, takut sekali,
fobia dan panik;
4)
Kenikmatan: bahagia, gembira, puas, terhibur,
bangga, takjub, terpesona, senang sekali dan manis;
5)
Cinta: persahabatan, penerimaan, kepercayaan,
kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasmaran;
6)
Terkejut: terpana dan takjub;
7)
Jengkel: hina, jijik,muak, benci;
8)
Malu: rasa bersalah, malu hati, kesal hati,
sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Pada
dasarnya emosi merupakan pengalaman afektif yang mendorong seseorang untuk
bertindak dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.
d. Pengaruh Emosi terhadap Tingkah
Laku Manusia
Emosi
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang. Kemampuan
seseorang dalam mengendalikan dan mengarahkan emosinya terhadap situasi sekitar
akan berpengaruh terhadap hubungan sosial.
Menurut
Yusuf (2000: 75) pengaruh emosi terhadap perilaku individu adalah sebagai
berikut:
1)
Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang
atau puas atas hasil yang telah dicapai.
2)
Melemahkan
semangat, apabila timbul
rasa kecewa karena
kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbul rasa putus
asa (frustasi).
3)
Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar,
apabila sedang mengalami ketegangan
emosi dan bisa
juga menimbulkan sikap
gugup (nervous) dan gagap dalam
berbicara.
4)
Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi
cemburu dan iri hati.
5)
Suasana emosional yang diterima dan dialami
individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikap di kemudian hari, baik
terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
Apabila
seseorang pandai dalam mengendalikan emosinya dalam keadaan apapun maka
perilaku orang tersebut akan selalu bersifat positif.
e. Pengertian Kecerdasan Emosional
Kecerdasan
emosional adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman.
Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (2005: 45)
“berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran
rasional dan pikiran emosional.” Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan
intelektual atau yang populer dengan sebutan “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional di gerakan
oleh emosi. Kecerdasan emosional sendiri memiliki pengertian “Kemampuan
mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi
diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan
dalam hubungan dengan orang lain” (Goleman: 2005: 512).
Salovey
dan Mayer (1990) dalam Goleman (2005: 513) mendefinisikan kecerdasan emosi
sebagai “kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain,
serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan.” Secara
garis besar dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan
seseorang untuk mengendalikan emosinya dalam bertindak.
f. Dasar Kecerdasan Emosional
Salovey
(1990) dalam Goleman (2005: 513) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam
definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, Goleman membagi
lima dasar kecakapan emosi dan sosial sebagai berikut:
1)
Kesadaran diri
Mengetahui
apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu,
pengambilan keputusan diri sendiri; memiliki tolak ukur yang realistis atas
kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
2)
Pengaturan diri
Menangani emosi kita sedemikian
sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati
dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran; mampu pulih
kembali dari tekanan emosi.
3)
Motivasi
Menggunakan hasrat kita yang
paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita
mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, dan untuk bertahan menghadapi
kegagalan dan frustasi.
4)
Empati
Merasakan apa yang dirasakan
oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling
percaya dan menyelesaikan diri dengan bermacam-macam orang.
5)
Keterampilan sosial
Menangani emosi dengan baik
ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan
jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar; menggunakan
keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah
dan menyelesaikan perselisihan, dan untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim.
Apabila
kelima dasar kecakapan tersebut dimiliki oleh setiap individu, diharapkan
nilai-nilai yang ada dalam kelima dasar kecakapan tersebut mampu membentuk
individu-individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang baik,
sehingga akan tercipta sekelompok manusia atau masyarakat yang memiliki tingkat
kecerdasan emosional yang tinggi.
g. Wilayah Kecerdasan Emosional
Salovey
dan mayer (1990) dalam Goleman (2000) yang dikutip oleh Mudjihartono (2009: 19)
“memaparkan lima wilayah kecerdasan emosional dan membagi
kelima wilayah tersebut menjadi beberapa karakteristik yang dapat digunakan
untuk melihat bagaimana kecerdasan emosional.” Kelima wilayah itu meliputi
“kesadaran diri, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati
dan membina hubungan.” Adapun karakteristik dari kelima wilayah tersebut akan
dipaparkan di dalam tabel 2.1, sebagai berikut:
Tabel 2.1 Wilayah Kecerdasan Emosional
Daniel Goleman (2005)
ASPEK
|
KARAKTERISTIK
|
1.
Mengenali Emosi Diri.
|
a.
Mengenal dan merasakan emosi diri.
b.
Memahami penyebab perasaan yang timbul.
c.
Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan.
|
2.
Mengelola Emosi.
|
d.
Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik.
e.
Lebih mampu mengungkapkan amarah lebih tepat tanpa
berkelahi.
f.
Dapat mengendalikan perilaku yang agresif yang merusak
diri sendiri dan orang lain.
g.
Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri,
sekolah dan keluarga.
h.
Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa
(stres). Dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan.
|
3.
Memotivasi Diri Sendiri..
|
a.
Memiliki rasa tanggung jawab.
b.
Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan.
c.
Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsive.
|
4.
Mengenal Emosi Orang Lain.
|
a.
Mampu menerima sudut pandang orang lain.
b.
Memiliki sikap empati atau kepekaan pada orang lain.
c.
Mampu mendengarkan orang lain.
|
5.
Membina Hubungan.
|
a.
Memiliki kemampuan dan pemahaman untuk menganalisis
hubungan dengan orang lain.
b.
Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain.
c.
Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
d.
Memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan
teman sebaya.
e.
Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap
orang lain.
f.
Memperhatikan kepentingan sosial (senang menolong orang
lain).
g.
Bersikap senang berbagi rasa dan kerja sama.
Bersikap demokratis dalam bergaul dengan orang lain.
|
Dari beberapa
tugas perkembangan siswa
sekolah menengah atas,
ada beberapa tugas perkembangan yang berkaitan erat dengan kecerdasan
emosional, seperti mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya,
memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan
sosial yang lebih luas, belajar
menjadi pribadi yang
mendiri secara emosional,
dan lain sebagainya.
h. Ciri-Ciri Emosi Remaja
Moh.
Ali dan Asrori (2004) dalam
Mudjihartono (2009: 23) menggambarkan karakteristik emosi remaja pada periode
remaja usia sekolah menengah atas (16 -18 tahun) adalah sebagai berikut:
1)
Mulai meningkatkan rasa tanggung jawab dan
belajar sendiri mengenai beban hidupnya;
2)
Melihat fenomena yang sering terjadi di
masyarakat yang seringkali juga menunjukkan
adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak
jarang remaja mulai meragukan apa yang disebut baik dan buruk. Akibatnya,
remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap
benar, baik dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri.
Lebih-lebih jika orang tua dewasa di sekitar ingin memaksa nilai-nilainya
dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut
mereka;
3)
Selama periode berakhir masa remaja, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang
dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin
dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan
yang selayaknya kepada mereka;
4)
Interaksi dengan orang tua menjadi lebih bagus
dan lancar karena mereka sudah memiliki
kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil;
5)
Pilihan arah hidup sudah mulai jelas dan mulai mampu
mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana
meskipun belum bisa secara lancar;
6)
Mulai memilih cara-cara hidup yang dapat
dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat.
i.
Ciri-Ciri
Kecerdasan Emosional Remaja
Biehler
(1972) dalam
Sunarto (2008: 156) membagi ciri-ciri emosional remaja, yaitu usia 12-15 tahun
dan 15-17 tahun, dikarenakan fokus penelitian pada remaja SMA yang usianya
berkisar antara 15-17 tahun, maka yang akan dijelaskan adalah ciri-ciri
emosional remaja berusia 15-17 tahun, yaitu sebagai berikut:
1)
Pemberontakan remaja merupakan pernyataan/
ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
2)
Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak
remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin
mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru.
3)
Siswa pada usia ini sering kali melamun,
memikirkan masa depan mereka. Banyak di antara mereka terlalu tinggi menafsir
kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan
dan memegang jabatan tertentu.
Sedangkan
Goleman (2005: 130) mengemukakan tentang ciri-ciri kecerdasan emosional secara
spesifik. Ciri-ciri tersebut meliputi:
1)
Ciri Kecerdasan
Emosional Tinggi
Ciri Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh orang
yang mampu mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga emosi tersebut bersifat
positif. Ciri-ciri tersebut antara lain:
a)
Dapat
mengekspresikan emosi dengan jelas;
b)
Tidak
merasa takut untuk mengekspresikan perasaannya;
c)
Tidak
didominasi oleh perasaan-perasaan negatif;
d)
Dapat
memahami (membaca) komunikasi non-verbal;
e)
Membiarkan
perasaan yang dirasakan untuk membimbingnya;
f)
Berperilaku
sesuai dengan keinginan, bukan karena keharusan, dorongan dan tanggung jawab;
g)
Menyeimbangkan
perasaan dengan rasional, logika dan kenyataan;
h)
Dapat
mengidentifikasikan berbagai perasaan secara bersamaan.
2)
Ciri Kecerdasan
Emosional Rendah
Sedangkan ciri ini lebih bersifat negatif, karena
kurang mampunya seseorang atau individu dalam mengelola dan mengendalikan
emosinya. Ciri tersebut antara lain:
a)
Tidak
mempunyai rasa tanggung jawab terhadap perasaan diri sendiri, tetapi
menyalahkan orang lain;
b)
Tidak
mengetahui perasaannya sendiri sehingga sering menyalahkan orang lain, suka
memerintah, suka mengkritik, sering mengganggu, sering menggurui, sering
memberi nasihat, sering curang, dan senang menilai orang lain;
c)
Suka
menyalahkan orang lain;
d)
Berbohong
tentang apa yang ia rasakan;
e)
Membiarkan
segala hal terjadi atau bereaksi berlebihan terhadap kejadian yang sederhana;
f)
Tidak
memiliki perasaan dan integritas;
g)
Tidak
sensitif terhadap perasaan orang lain;
h)
Tidak
mempunyai rasa empati dan rasa kasihan;
i)
Kaku,
tidak fleksibel, membutuhkan aturan-aturan dan struktural untuk merasa
bersalah;
j)
Merasa tidak aman dan sulit menerima
kesalahan serta sering merasa bersalah;
k)
Tidak bertanggung jawab;
l)
Pesimistik dan sering menganggap dunia
tidak adil;
m)
Sering merasa tidak percaya diri,
kecewa, pemarah, sering menyalahkan.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa
seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi lebih dapat
mengendalikan emosinya dengan baik sehingga tindakan atau aktivitas yang
dilakukan cenderung bersifat positif, sebaliknya seseorang yang memiliki
tingkat kecerdasan emosional rendah cenderung lebih bersifat negatifdikarenakan
kurang mampu mengendalikan emosinya.
j.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional
Menurut
Hurlock (1960) dalam
Sunarto (2008: 156) “Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa
perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor
belajar.” Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam
mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan
kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti di mana itu
menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga
mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif
terhadap rangsangan yang tadinya tidak
mempengaruhi mereka pada usia
yang lebih muda. Kegiatan belajar juga turut menunjang
perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi menurut
Hurlock (1960) dalam
Sunarto (2008: 157), antara lain adalah:
1)
Belajar
dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi
dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak
perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan
kepuasan.
2)
Belajar
dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang
lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan
orang-orang yang diamatinya. Remaja yang suka ribut atau merasa populer di
kalangan teman-temannya biasanya akan marah bila mendapat teguran gurunya.
3)
Belajar
dengan cara mempersamakan diri (learningbyidentification)
Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan
mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya, yaitu menirukan reaksi
emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4)
Belajar
melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal
memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.
Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka
dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5)
Pelatihan
atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap
rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar
tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan. Anak memperhalus
ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa
kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati berakhirnya remaja, seorang anak
telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional
yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan
perasaan-perasaannya. Jadi, emosi yang di tunjukan mungkin merupakan selubung
yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukkan
kemarahan, dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah
tertawa, sepertinya ia merasa senang.
Remaja
pada masa kanak-kanak selalu diberi tahu agar tidak menunjukkan
perasaan-perasaannya. Sebagai seorang anak ia tidak boleh menangis, sehingga
pada waktu remaja, terutama remaja laki-laki jarang menangis, walaupun
sebenarnya ia ingin menangis karena kondisi atau keadaannya saat itu.
Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya terhadap
orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau
tidak merasakan lagi.
Dengan
bertambahnya umur dan kematangan emosional yang diperoleh dari
pengalaman-pengalaman kehidupannya menyebabkan perubahan dalam ekspresi
emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media masa atau keseluruhan
latar belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional
ini.
4. Kenakalan Remaja
a.
Kenakalan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online yang diakses
melalui mesin pencarian google serta
mengunakan aplikasi goole chrom pada
tanggal 11 April 2014 [ http://www.artikata.com/arti-372159-kenakalan.html
], kata kenakalan memiliki arti :
1) Bersifat nakal, perbuatan nakal.
2) Tingkah laku yang secara ringan menyalahi norma atau
aturan yang berlaku di masyarakat.
b.
Remaja
Remaja
berasal dari kata latin adolensence yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup
kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja
sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak
tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Seperti yang
dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat
transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan
tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti
Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang
mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja diartikan sebagai masa perkembangan
transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional.
Adapun batasan usia remaja
yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang
waktu usia remaja
ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja
awal, 15 – 18 tahun = masa
remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa
remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan
Haditono membedakan masa
remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja
10 – 12 tahun, masa
remaja awal 12 – 15 tahun, masa
remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja
akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Namun batasan usia yang digunakan dalam
penelitian ini ialah mereka yang memiliki rata usia sedang menempuh pendidikan
sekolah mengah atas yakni pada umumnya ialah usia 16 – 19 tahun.
c.
Pengertian
Kenakanal Remaja
Kenakalan
remaja atau yang biasa disebut juvenile delinquency merupakan suatu perbuatan yng melanggar norma,
aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau masa
transisi dari anak-anak ke masa dewasa.
Sedang
menurut Paul Moedikdo, SH kenakalan remaja adalah :
1) Semua kegiatan yang menurut orang
dewasa meruapakan tindak suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan
jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana seperti mencuri, menganiaya dan
sebagainya.
2) Semua perbuatan penyelewengan dari
norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat
3) Semua perbuatan yang menunjukkan
kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Penyebab kenakalan
remaja sangatlah kompleks, baik yang berasal dari dalam diri remaja tersebut,
maupun penyebab yang berasal dari lingkungan, lebih-lebih dalam era globalisasi
ini pengaruh lingkungan akan lebih terasa. Pemahaman terhadap penyebab
kenakalan remaja mempermudah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk
mengatasinya yakni salah satunya ialah dengan pemanfaatan waktu luang remaja
yang dalam hal ini ialah ekstrakulikuler olahraga bola voli
Adapun bentuk
kenakalan remaja yang biasa terjadi ialah :
1) Tawuran
antar pelajar
Tawuran antar pelajar adalah perbuatan yang
sangat bodoh, karena dapat merusak fasilitas umum dan fasilitas yg
terdapat di sekolah. Tawuran juga dapat merusak masa depan, karena
jika tertangkap polisi nama mereka yang tertangkap akan tercemar.
2) Mencoret
coret dinding sekolah
Mencoret coret secara ilegal adalah perbuatan
yang tidak baik, karena dapat membuat kotor sekitar lingkungan.Tetapi jika kita
melakukannya dengan baik, coretan coretan itu dapat manjadi karya karya seni
yang baik, dan juga dapat manghasilkan mata pancaharian yang baik .
3) Mencuri
Mancuri juga dapat merusak nama baik kita, karena
jika kita ketahuan mencuri, kita akan merasa sangat malu, dan kita juga akan di
jauhi oleh orang orang yang dekat dengan kita, karena orang itu sudah tidak
percaya lagi dengan kita.
4) Bolos
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto
Mulyadi mengatakan kebiasaan anak menghabiskan waktu luang atau membolos
saat jam sekolah salah satunya disebabkan karena pelajaran atau kegiatan di
sekolah tidak menarik.
“Kalau diperhatikan, anak-anak akan berteriak
bahagia ketika mendengar bel istirahat atau bel pulang sekolah,” ungkap Kak
Seto, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Lebih lanjut Kak Seto mengatakan, para akedimisi
seharusnya lebih memperhatikan kegiatan yang menarik di sekolah sehingga perhatian
anak akan fokus pada kegiatan positif di sekolah.
Dia menunjuk, sekolah negeri dan perangkatna yang
masih kurang maksimal dalam mengajar kreatif. Bahkan Kak Seto menegaskan,
belajar bukanlah kewajiban melainkan hak anak.
“Banyak guru yang tidak melihat proses
kreativitas anak. Padahal tipe kecerdasan dan gaya belajar anak yang satu
dengan yang lainnya berbeda, tapi semuanya disama ratakan. Ini yang membuat
anak tidak betah ada di ruang kelas,” paparnya.
5) Merusak fasilitas sekolah
Merusak fasilitas sekolah akan merugikan diri
saendiri dan orang lain, karena kita tidak bisa memakai atau manggunakan
fasilitas fasilitas tersebut. Dll.
Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan
remaja secara umum dapat dikelompokan ke dalam dua faktor, yaitu sebagai
berikut:
1)
Faktor Intern
a) Faktor
Kepribadian
Kepribadian adalah
suatu organisasi yang dinamis pada system psikosomatisdalam
individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya
dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter psikisnya). Masa remaja
dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya. Pada periode ini, seseorang
meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa. Masa ini di rasakan
sebagai suatu Krisis identitas karena belum adanya pegangan, sementara kepribadian
mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja atau perilaku menyimpang.
b)
Faktor Kondisi Fisik
Faktor ini dapat
mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi jenis kelamin. Ada
suatu teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh dengan
tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam
kenyataan hidup). Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami
cacat fisik cenderung mempunyai rasa kecewa terhadap kondisi hidupnya.
Kekecewaan tersebut apabila tidak disertai dengan pemberian bimbingan akan
menyebabkan si penderita cenderung berbuat melanggar tatanan hidup bersama
sebagai perwujudan kekecewaan akan kondisi tubuhnya.
c) Faktor Status dan Peranannya di Masyarakat
Seseorang anak yang
pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang berlaku, setelah selesai
menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara), sering kali pada saat
kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana” yang diberikan oleh
masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali melakukan tindakan
penyimpangan hukum karena meresa tertolak dan terasingkan.
2)
Faktor Ekstern
a)
Kondisi Lingkungan Keluarga
Khususnya di kota-kota
besar di Indonesia, generasi muda yang orang tuanya disibukan dengan kegiatan
bisnis sering mengalami kekosongan batin karena bimbingan dan kasih sayang
langsung dari orang tuanya sangat kurang. Kondisi orang tua yang lebih
mementingkan karier daripada perhatian kepada anaknya akan menyebabkan
munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya. Kasus kenakalan remaja yang
muncul pada keluarga kaya bukan karena kurangnya kebutuhan materi melainkan
karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.
b) Kontak
Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif
Apabila system
pengawasan lembaga-lembaga sosial masyarakat terhadap pola perilaku anak muda
sekarang kurang berjalan dengan baik, akan memunculkan tindakan penyimpangan
terhadap nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, mudah menoleransi tindakan
anak muda yang menyimpang dari hukum atau norma yang berlaku, seperti
mabuk-mabukan yang dianggap hal yang wajar, tindakan perkelahian antara anak
muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan
penyimpangan perilaku ini akan semankin meningkatkan kuantitas dan kualitas
tindak penyimpangan di kalangan anak muda.
c) Kondisi
Geografis atau Kondisi Fisik Alam
Kondisi alam yang
gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan terjadinya tindakan yang
menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih apabila individunya
bermental negative. Misalnya, melakukan tindakan pencurian dan mengganggu
ketertiban umum, atau konflik yang bermotif memperebutkan kepentingan
ekonomi.
d) Faktor
Kesenjangan Ekonomi dan Disintegrasi Politik
Kesenjangan ekonomi
antara orang kaya dan orang miskin akan mudah memunculkan kecemburuan sosial
dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa mewujudkan tindakan perusakan,
pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik (antara lain terjadinya konflik
antar partai politik atau terjadinya peperangan antar kelompok dan perang
saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian bisa menimbulkan
tindakan-tindakan menyimpang.
e) Faktor
Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat (Revolusi)
Perkembangan teknologi
di berbagai bidang khususnya dalam teknologi komunikasi dan hiburan yang
mempercepat arus budaya asing yang masuk akan banyak mempengaruhi pola tingkah
laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih anak tersebut belum siap mental dan
akhlaknya, atau wawasan agamanya masih rendah sehingga mudah berbuat hal-hal
yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai dan norma yang berlaku.
Adapun
dampak yang ditimbulkan dari prilaku kenakalan remaja ini ialah sebagai berikut
:
a) Dampak kenakalan
remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani,
ia akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
b) Remaja yang melakukan
kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh
banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang
yang tidak berguna.
c) Akibat dari
dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan
kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan
berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa
sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
d) Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan
biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari
tentang beban keluarganya.
e) Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para
remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang
kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan
memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat
memperbaikinya.
f) Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak
kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan
tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri
demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.
B. KERANGKA PEMIKIRAN
1. Hubungan Antara Ekstrakurikuler Bola Voli dengan Kecerdasan Emosional
Olahraga merupakan kegiatan yang digemari khususnya oleh
remaja pria. Remaja pria lebih gemar berolahraga karena selain sebagai wadah
untuk mengekspresikan diri, olahraga juga dapat dijadikan tempat untuk
memperoleh gengsi dalam pergaulan. Seperti halnya kegiatan ekstrakurikuler bola
voli, kegiatan olahraga ini banyak digemari oleh siswa remaja sekolah. Selain
menjadi tempat untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya,
kegiatan ekstrakurikuler bola voli juga dapat dijadikan sebagai tempat
bersosialisasi antar sesama. Menurut Brooks(2000) dalam Tarmidi (2012: 89)
Siswa yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga tidak hanya
dapat mengembangkan keterampilan, tetapi mereka juga belajar untuk menghormati
otoritas, belajar untuk menghadapi
tantangan baru, dan
menikmati kebersamaan dengan teman. Kegiatan olahraga tidak
hanya baik untuk
fisik tetapi juga
meningkatkan emosional siswa. Berolahraga dapat mengurangi kecemasan dan depresi, melancarkan
peredaran darah, dan meningkatkan harga
diri. Anak-anak yang berolahraga lebih percaya diri, mengurangi ketidakhadiran di sekolah, dan biasanya
mendapatkan nilai yang lebih baik.
Gunarsa (2004) dalam Mudjihartono (2009: 27) juga
mengungkapkan hal yang sama, bahwa “Olahraga
seperti bulu tangkis,
tenis, tenis meja,
voli dan basket dapat mengembangkan kecerdasan emosi.” Sharon dan Kassin
dalam Gunarsa (2004)
yang dikutip oleh Mudjihartono (2009: 27) “Memasukan olahraga sebagai cara
melatih kecakapan emosi, dengan alasan kegiatan olahraga memberi motivasi
dan memusatkan perhatian pada sasaran
yang jelas dan dapat dikelola.” Dengan kata lain, kegiatan ekstrakurikuler
olahraga diasumsikan mempunyai hubungan
dengan kecerdasan emosional.
2. Hubungan antara Ekstrakurikuler Bola Voli dengan Perilaku Kenakalan Remaja
Kegiatan ekstrakurikuler bola voli tidak lepas dari
aktivitas permainan dan olahraga. Melalui kegiatan olahraga diharapkan siswa
dapat sehat (mampu bersikap sesuai norma), mempunyai daya
tangkal terhadap penyakit, menghindari narkoba dan
obat terlarang. Dalam
pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler siswa diarahkan untuk memilih
salah satu cabang olahraga yang sesuai dengan minat,
bakat dan kemampuan siswa. Hal
ini sesuai dengan tujuan dari olahraga itu sendiri dalam mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan
gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas
emosional, tindakan moral, aspek perilaku hidup sehat dan pengenalan lingkungan
bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang
direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Dalam hubungannya dengan
perilaku kenakalan remaja, ekstrakurikuler bola voli ini merupakan salah satu bagian dari aktivitas
olahraga yang salah satu tujuannya adalah untuk memanfaatkan waktu luang
sehingga tidak dipergunakan untuk hal yang tak berguna bagi masa depan siswa
yang mengikutinya, dalam hal ini adalah aktivitas olahraga.
Hasil penelitian Blomfield (2010)
dalam Tarmidi (2012: 85) yang dilakukan pada siswa-siswa di Australia
menunjukkan bahwa “Keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler olahraga
mengurangi tingkat penggunaan alkohol, mengurangi ketidakhadiran di sekolah,
dan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolahnya.” Pemanfaatan waktu yang diisi dengan aktivitas olahraga
yang positif merupakan proses pembelajaran sosialisasi. Karena melalui
pengalaman yang baik, olahraga yang dilakukannya, dapat membuat seseorang dapat
meniru dan memperkuat sifat-sifat psikologis dan perilakunya yang berhubungan
dengan pembentukan karakter serta kepribadian.
Oleh karena itu, aktivitas
olahraga yang dilakukan, bukan saja merupakan sarana penunjang proses
sosialisasi. Sehingga masyarakat pada waktu
melakukan aktivitas olahraga akan belajar dan membentuk karakter serta
kepribadian yang baik. Dari hasil pengamatan dan membandingkan kemampuan diri
dengan orang lain saat berinteraksi dengan orang yang lain.
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Menurut Sugiyono (2012: 96) “hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat.” Hipotesis juga dapat dinyatakan
sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, didasarkan pada
teori yang relevan dan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh
dari pengumpulan data. Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pemikiran
diperoleh hipotesis atau jawaban sementara terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam
penelitian ini. Hipotesis yang diperoleh adalah sebagai berikut:
- Kegiatan ekstrakurikuler bola voli berkontribusi dalam meminimalisasi kenakalan remaja/siswa SMK N 2 Indramayu.
- 2. Terdapat nilai kontribusi kegiatan ekstrakurikuler bola voli dalam meminimalisasi kenakalan remaja/siswa SMK N 2 Indramayu.
Apabila dalam penulisn contoh skripsi BAB I dan BAB II ini masih banyak kekurangan, saya memohon maad sebesar-besarnya.
Mas, mau Tanya sumber referensi Tarmidi judul bukunya apa ya?
BalasHapusTerimakasih
Mas, mau tanya sumber referensi Tarmidi judul bukunya apa ya?
BalasHapusTerimakasih
bang mohon maaf izin bertanya ini masuknya korelasi ya ? soalnya dari judul ada kata kontribusi ?
BalasHapusass....
BalasHapusmhon maaf sodara kenapa hanya sampai bab II saja, bagus sekali skripsi ini tpi sayang hanya sampai bab II saja.
BAB III nya mana??
BalasHapusBAB III nya mana??
BalasHapus